Candidatus Phytoplasma
Lainnya
Bunga yang normalnya menghasilkan biji berubah menjadi kumpulan daun kecil berwarna hijau. Tanaman menjadi rimbun, kerdil, dan jarak antar daun memendek. Daun tetap kecil dan tanaman terus menghasilkan tunas baru di bagian atas. Bunga yang terbentuk menjadi mandul dan tidak bisa menghasilkan biji. Pada beberapa tanaman muncul gejala seperti “sapu penyihir”, yaitu banyak tunas tipis tumbuh bergerombol.
Tidak ada pengobatan untuk tanaman yang sudah terinfeksi fitoplasma. Gunakan minyak nimba sebagai pengendalian awal terhadap wereng daun. Semprotkan saat wereng pertama terlihat dan ulangi setiap 10–15 hari selama periode serangan tinggi. Gunakan insektisida kimia hanya jika populasi melebihi ambang batas. Cari musuh alami setempat, seperti serangga predator atau parasitoid, yang bisa membantu mengendalikan hama.
Tidak ada obat untuk penyakit fitoplasma setelah tanaman terinfeksi. Pengendalian kimiawi difokuskan pada pencegahan infeksi dengan membunuh wereng daun sebelum menyebarkan penyakit. Lakukan penyemprotan pertama saat populasi wereng mulai muncul. Ulangi setiap 15 hari selama periode lembap. Fokus pengendalian pada pencegahan peningkatan populasi wereng. Pantau cuaca dan tingkatkan pengendalian sebelum musim hujan. Hentikan penggunaan insektisida setelah gejala penyakit muncul karena sudah terlambat untuk mencegah infeksi.
Penyakit filodi disebabkan oleh fitoplasma, organisme mirip bakteri yang hidup di dalam sel tanaman. Fitoplasma tidak mampu bertahan hidup di luar tanaman dan tidak bisa bergerak sendiri. Penyebarannya bergantung pada wereng daun yang membawa fitoplasma dari tanaman sakit ke tanaman sehat. Kelembapan tinggi (lebih dari 85%), curah hujan tinggi, dan suhu sejuk antara 20–25°C sangat mendukung perkembangan fitoplasma dan aktivitas wereng daun. Fitoplasma membutuhkan waktu 15–63 hari untuk berkembang di dalam tubuh wereng daun dan 13–61 hari untuk menimbulkan gejala pada tanaman wijen. Setelah wereng dewasa membawa fitoplasma, serangga itu bisa menularkan penyakit sepanjang hidupnya. Hanya wereng dewasa yang bisa menyebarkan penyakit, sedangkan nimfa tidak. Filodi termasuk salah satu penyakit paling merusak pada wijen di seluruh dunia. Nama filodi berasal dari gejala utama berupa perubahan bunga menjadi struktur menyerupai daun yang disebut filoid.